Pendahuluan
Antropologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang manusia ditinjau dari segi perkembangan budaya dan keadaan
fisik, dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu ilmu tentang manusia
khususnya tentanng asal-usul aneka warna dan bentuk fisik adat istiadat dan
kepercayaan.
Dalam berbagai penelitian antropologi agama
dapat ditemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi
ekonomi dan politik, Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat
diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud
praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui
pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang
dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.[1]
Perkembangan
Historis pendekatan Antropologis
Pemahaman tentang
antropologi selalu mengalami perubahan, antropologi bermula pada abad XIX
sebagai penelitian terhadap asal usul manusia. Penelitian antropologi ini
mencakup pencarian fosil yang masih ada, dan mengkaji keluarga binatang yanng
terdekat dengan manusia (primate)
serta meneliti masyarakat manusia apakah yang apakah yang paling tua dan tetap
bertahan (survive). Masyarakat tersebut di sebut masyarakat Primitif,
bahwa seluruh aktifitas penelitian di atas tergolong penelitian antropologi,
sekarang hal itu tampak sebagai kecelakaan sejarah semata, pada waktu itu semua
di lakukan dengan ide kunci, ide tentang evalusi.[2]
Antropolog-antropolog awal, seperti juga
hampir seluruh intelektual –intelektual adab XIX adalah evolusionis. Mereka
berfikir bahwa seluruh masyarakat manusia tertara dalam keteraturan , seolah
ekskalator historis raksasa, sebagian
masyarakat yaitu masyarakat mereka sendiri berada di posisi puncak sedang
masyarakat lainnya yaitu negara-negara Eropa dan peradapan asia yang kurang
berkembang berada dalam posisi tengah, dan beberapa bagian kecil yang diduga
sebagai manusia primitif berada dalam posisi bawah. Dan seluruh masyarakat
dianggap berada dalam proses evolusi dan selama proses evolusi berlangsung
mereka menjadi lebih komplek dan rasional serta tidak lagi sedeerhana dan
primitif, melainkan sebagian masyarakat lain tetap berada pada tingkat
eskalator yang paling rendah.[3]
Pengertian dan
Karakteristik Dasar Pendekatan Antropologis
Pendekatan
antropologi adalah mempelajari tentang
manusia ditinjau dari segi perkembangan budaya dan keadaan fisik.
Salah satu konsep terpenting dalam antropologi modern adalah holisme, yakni pandangan bahwa praktik-praktik sosial harus diteliti dalam konteks dan secara esensial dilihat sebagai praktik yang berkaitan dengan yang lain dalam masyarakat yang sedang diteliti para antropolog harus melihat agama dan praktik-praktik pertanian kekeluargaan, dan politik, magic, dan pengobatan “secara bersama-sama”. Maka agama misalnya tidak bisa dilihat sebagai sistem otonom yang tidak terpengaruh oleh praktik-praktik sosial lainnya.[4]
Salah satu konsep terpenting dalam antropologi modern adalah holisme, yakni pandangan bahwa praktik-praktik sosial harus diteliti dalam konteks dan secara esensial dilihat sebagai praktik yang berkaitan dengan yang lain dalam masyarakat yang sedang diteliti para antropolog harus melihat agama dan praktik-praktik pertanian kekeluargaan, dan politik, magic, dan pengobatan “secara bersama-sama”. Maka agama misalnya tidak bisa dilihat sebagai sistem otonom yang tidak terpengaruh oleh praktik-praktik sosial lainnya.[4]
Pendekatan
antropologi terhadap agama diperlukan untuk memberi wawasan keilmuan yang lebih
komprehensip tentang entitas dan substansi agama yang sampai sekarang masih
dianggap sangat penting untuk membimbing kehidupan umat manusia baik untuk
kehidupan pribadi, komunitas, sosial, politik maupun budaya para penganutnya.
Diperlukan ‘peta’ wilayah yang cukup jelas sebelum masuk ke jantung kota yang
sangat kompleks, minimal untuk mengetahui jalan-jalan protokol supaya tidak
tersesat jalan, shukur kalau dapat diperoleh dan dilengkapi peta yang
lebih detil sampai menjangkau ke jalan-jalan kecil, gang-gang, nomor
rumah yang dituju dan begiutu seterusnya.
Pendekatan antropologi terhadap entitas keberagamaan dan entitas
keilslaman adalah ibarat pembuatan peta yang dimaksud. Pendekatan
antropologi bersikap deskriptif, melukiskan apa adanya dari realitas yang
ada, dan bukannya normative , dalam arti tidak ada keinginan dari
si pembuat peta untuk mencoret, menutup atau tidak menggambar atau
menampilkan alur jalan yang dianggap kira-kira tidak enak atau berbahaya
untuk dilalui.
Pendekatan
antropologi harus bersikap jujur, apa adanya, tanpa ada muatan interes-interes
atau kepentingan tertentu (golongan, ras, etnis, agam, gender,
minoritas-mayoritas) untuk tidak membuat peta (keagamaan manusia) apa
adanya. Disini bedanya dari corak pendekatan Teologi (dalam Kristen) atau Kalam
dan fikih (dalam islam) lama, yang kadang tidak ingin menampilkan gambar dan
peta keagamaan apa adanya karena adanya interes-interes golongan
keagamaan (sekte, madzhab, organisasi keagamaan)- seperti penekanan
pentingnya pada sejarah penyelamatan (salvation history) yang ditawarkan
oleh agama tertentu dengan mengesampingkan agama- agama lain-
sehingga peta atau gambar yang dibuat menjadi kabur dan tidak begitu jelas
untuk melihat agama-agama secara utuh-komprehensif. [5]
Teori-teori
pendekatan Antropologi
a.
Theologi (Mengolah
budaya dengan keyakinan-keyakinan mistis)
b.
Modern ( Rasional , pertimbangan rasional)
c.
Positif ( ditenukan
olehkepastian hasil, ini lebih praktis dari keduanya)
Langkah-langkah
menggunakan penelitian Antropologis
a.
Tentukan topik
permasalahan
b.
Kumpulkan data-data
terbaik
c.
Lakukan analisis
antropologi dengan menjalankan teori
d.
Lakukan penyimpulan
0 komentar:
Posting Komentar