12/06/2012

Pendekatan Antropologi dalam Studi Agama




Pendahuluan
          Antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia ditinjau dari segi perkembangan budaya dan keadaan fisik, dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu ilmu tentang manusia khususnya tentanng asal-usul aneka warna dan bentuk fisik adat istiadat dan kepercayaan.
 Dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik, Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.[1]
Perkembangan Historis pendekatan Antropologis
     Pemahaman tentang antropologi selalu mengalami perubahan, antropologi bermula pada abad XIX sebagai penelitian terhadap asal usul manusia. Penelitian antropologi ini mencakup pencarian fosil yang masih ada, dan mengkaji keluarga binatang yanng terdekat dengan  manusia (primate) serta meneliti masyarakat manusia apakah yang apakah yang paling tua dan tetap bertahan (survive). Masyarakat tersebut di sebut masyarakat Primitif, bahwa seluruh aktifitas penelitian di atas tergolong penelitian antropologi, sekarang hal itu tampak sebagai kecelakaan sejarah semata, pada waktu itu semua di lakukan dengan ide kunci, ide tentang evalusi.[2]
     Antropolog-antropolog awal, seperti juga hampir seluruh intelektual –intelektual adab XIX adalah evolusionis. Mereka berfikir bahwa seluruh masyarakat manusia tertara dalam keteraturan , seolah ekskalator  historis raksasa, sebagian masyarakat yaitu masyarakat mereka sendiri berada di posisi puncak sedang masyarakat lainnya yaitu negara-negara Eropa dan peradapan asia yang kurang berkembang berada dalam posisi tengah, dan beberapa bagian kecil yang diduga sebagai manusia primitif berada dalam posisi bawah. Dan seluruh masyarakat dianggap berada dalam proses evolusi dan selama proses evolusi berlangsung mereka menjadi lebih komplek dan rasional serta tidak lagi sedeerhana dan primitif, melainkan sebagian masyarakat lain tetap berada pada tingkat eskalator yang paling rendah.[3]

Pengertian dan Karakteristik Dasar Pendekatan Antropologis
     Pendekatan antropologi adalah  mempelajari tentang manusia ditinjau dari segi perkembangan budaya dan keadaan fisik.
Salah satu konsep terpenting dalam antropologi modern adalah holisme, yakni pandangan bahwa praktik-praktik sosial harus diteliti dalam konteks dan secara esensial dilihat sebagai praktik yang berkaitan dengan yang lain dalam masyarakat yang sedang diteliti para antropolog harus melihat agama dan praktik-praktik pertanian kekeluargaan, dan politik, magic, dan pengobatan “secara bersama-sama”. Maka agama misalnya tidak bisa dilihat sebagai sistem otonom yang tidak terpengaruh oleh praktik-praktik sosial lainnya.[4]
Pendekatan antropologi terhadap agama diperlukan untuk memberi wawasan keilmuan yang lebih komprehensip tentang entitas dan substansi agama yang sampai sekarang masih dianggap sangat penting untuk membimbing kehidupan umat manusia baik untuk kehidupan pribadi, komunitas, sosial, politik maupun budaya para penganutnya. Diperlukan ‘peta’ wilayah yang cukup jelas sebelum masuk ke jantung kota yang sangat kompleks, minimal untuk mengetahui jalan-jalan protokol supaya tidak tersesat jalan,  shukur kalau dapat diperoleh dan dilengkapi peta yang lebih detil sampai menjangkau ke  jalan-jalan kecil, gang-gang, nomor rumah yang dituju  dan begiutu seterusnya.
  Pendekatan antropologi terhadap entitas keberagamaan  dan entitas keilslaman adalah ibarat pembuatan peta yang dimaksud. Pendekatan antropologi  bersikap deskriptif, melukiskan apa adanya dari realitas yang ada, dan bukannya normative , dalam arti tidak ada keinginan  dari  si pembuat peta untuk  mencoret, menutup atau tidak menggambar atau menampilkan alur jalan yang dianggap kira-kira tidak enak  atau berbahaya untuk dilalui.
Pendekatan antropologi harus bersikap jujur, apa adanya, tanpa ada muatan interes-interes atau kepentingan tertentu (golongan, ras, etnis, agam,  gender, minoritas-mayoritas) untuk tidak membuat peta  (keagamaan manusia) apa adanya. Disini bedanya dari corak pendekatan Teologi (dalam Kristen) atau Kalam dan fikih (dalam islam) lama, yang kadang tidak ingin menampilkan gambar dan peta keagamaan apa  adanya karena adanya interes-interes golongan keagamaan  (sekte, madzhab, organisasi keagamaan)- seperti  penekanan pentingnya pada  sejarah penyelamatan (salvation history) yang ditawarkan oleh  agama tertentu dengan mengesampingkan agama- agama  lain-  sehingga peta atau gambar yang dibuat menjadi kabur dan tidak begitu jelas untuk melihat agama-agama secara  utuh-komprehensif.  [5]

Teori-teori pendekatan Antropologi
a.       Theologi (Mengolah budaya dengan keyakinan-keyakinan mistis)
b.      Modern   ( Rasional , pertimbangan rasional)
c.       Positif ( ditenukan olehkepastian hasil, ini lebih praktis dari keduanya)

Langkah-langkah menggunakan penelitian Antropologis
a.       Tentukan topik permasalahan
b.      Kumpulkan data-data terbaik
c.       Lakukan analisis antropologi dengan menjalankan teori
d.      Lakukan penyimpulan


[1] http://ajiraksa.blogspot.com/2012/04/pendekatan-antropologis-dalam-memahami.html
[2] Connolly. Peter. Aneka pendekatan studi Agama. Lkis. Yogyakarta. H 15
[3] Ibid h 16
[4] Connolly. Peter. Aneka pendekatan studi Agama. Lkis. Yogyakarta. H 34

[5] http://aminabd.wordpress.com/2011/01/14/urgensi-pendekatan-antropologi-untuk-studi-agama-dan-studi-islam/